Jan 15, 2015

Kelahiran Nabi Isa dan Kuasa Tuhan

CERAMAH SINGKAT, Pada dasarnya ayat yang satu dengan ayat yang lain adalah saling berhubungan kelahiran Nabi Isa dan Kuasa Tuhan sebagai salah satu bentuk ayat yang berhubungan dengan ayat ayat sebelumnya.
dan saling mengikat, begitupula antara surat yang satu dengan surat yang lain mempunyayi keterkaitan pula yang erat dan mengikat, di bawah ini akan ada paparan tentang

Kisah natalitas Nabi Isa as diabadikan di dalam QS. Maryam juga di dalam surat Ali Imran. Dalam susunan mushaf Utsmani Surat Maryam termasuk surat ke-19, dalam surat tersebut di permulaan surat memuat kisah lahirnya Nabi Yahya as putra Nabi Ishaq as, dimana Nabi Yahya dilahirkan dari seorang ibu yang sudah memasuki usia senja dan mandul, peristiwa tersebut menurut pertimbangan akal manusia tak mungkin terjadi. Namun hal itu tidak mengherankan lagi karena setelah usai memuat kisah lahirnya Nabi Yahya kemudian berlanjut dengan kisah lahirnya Nabi Isa tanpa seorang bapak, di sinilah kelahiran Nabi Isa dan Kuasa Tuhan bertindak

Seolah-olah ayat tersebut ingin menunjukkan kepada pembacanya pada waktu itu dan masa mendatang bahwa Allah maha kuasa atas segala yang dikehendakinya. Lahir dari seorang ibu yang memasuki usia senja lagi mandul merupakan peristiwa fenomenal, namun hal itu belumlah seberapa fenomenalnya dengan seorang bayi yang dilahirkan Maryam bernama Isa as tanpa seorang Ayah.
Allah berfirman QS. Maryam 19-20

Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"

Kuasa tuhan tidak terbendung oleh kehendak serta tak terbatas oleh akal pikiran manusia, Tuhan Allah swt mempunyai kuasa yang benar benar diluar batas jangkauan manusia, untuk menjelaskannya agar ada kesinambungan maka bacalah ayat per ayat agar menemukan titik terang yang disampaikan oleh Al Quran, tanpa mengkaji secara detail, mustahil menumakan pesan inti ajaran Qur’an

Fenomena dalam masyarakat kita ini dengan banyaknya artikel di media (bc. Mbah google) membuat banyak orang yang hanya tahu lapisan kulit luarnya pengetahuan saja namun minim pengetahuan intinya. Untuk memahami kesinambungan ayat demi ayat tersebut, para ulama’ ahli ilmu tafsir memuat bahasan tersendiri dalam bahasan tanasubul ayat (hubungan ayat). Begitupula yang terjadi hubungan surat per-surat di dalam Al Qur’an yang diracik oleh ahli ilmu tafsir dengan nama tanassubus suwar (hubungan surat) di dalam al Qur’an.



Jan 13, 2015

Implikasi Sombong

Ada empat hal yang bisa menghambat bahkan mampu menggagalkan proyek perbaikan hati, menurut Imam Ghazali dalam minhajul abidin empat hal tersebut adalah sombong, panjang angan-angan, iri hati atau dengki dan tergesa-gesa. Pada kesempatan kali ini, admin ceramah singkat akan membahas tentang implikasi sombong. Sifat sombong tidak berdiri sendiri tetapi mempunyai efek domino yang melahirkan beberapa sifat lainnya.

Adapun definisi sombong dapat terwakili dengan cuplikan hadits Nabi saw alkibr bathrul haq wa ghamtun naas Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain, dalam hadits potongan hadits tersebut sombong bisa dilihat dari dua sudut pandang, Sombong kepada khaaliq dan sombong kepada makhluq, sombong kepada khaaliq berarti melakukan penolakan terhadap kebenaran yang hadir dihadapannya dan sombong kepada makhluq berarti memandang dirinya paling baik dibanding dengan orang lain.

Sombong adalah sifat yang merusak, salah satu kegagalan Iblis meraih derajat mulia di hadapan Allah meskipun awalnya termasuk dalam kategori makhluk yang hebat dalam ibadahnya juga disebabkan kesombongannyan pada saat penciptaan Adam as Iblis enggan menjalankan perintah Allah untuk bersujud menghormat kepada Nabi Adam as, akhirnya iblis menjadi makhluk durhaka kisah ini terabadikan dalam QS. Al Baqarah: 34

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ 
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Sombong akan membangkitkan sifat tercela lainnya sebagai efek domino dari sikap sombongnya itu; Pertama, Tertutupnya kebaikan (khirman al haq) sehingga hatinya buta tidak mampu melihat kebaikan dari orang lain, orang yang mengidap penyakit sombong akan melihat orang lain rendah, sehingga berita kebaikan yang dibawa orang lain dianggap sebagai berita yang salah, kurang berkualitas karena hatinya telah terkunci mati oleh kesombongan, Allah berfirman;

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ ءَامَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّار
(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.(QS. Al Ghofir: 35)

Kedua, dibenci Allah (al baghdhu min Allah) karena sifat tercela, kebencian Allah terhadap hambanya yang berlaku sombong secara eksplisit muncul dalam beberapa ayat diantaranya adalah, Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.(QS. An Nahl:32). Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, Nabi Musa as dalam munajatnya menanyakan kepada Tuhannya, siapakah orang yang paling dibenci oleh Allah, salah satunya adalah orang yang hatinya bercokol sifat sombong.

Ketiga, siksaan (an-nikaal) bagi penyandang sifat sombong dunia dan akhirat, di dunia ia dibenci sesamanya atas arogansi dan egosinya, karena memandang dirinya paling benar, sehingga orang lain merasa diremehkan dan tidak dihargai sepenuhnya sebagai manusia sempurna, kurang apresiatif, ego sentris serta predikat lain yang tersemat dalam dirinya.

Biasanya semua kebaikan yang dihadirkan ke hadapannya adalah kebenaran nomor dua (second trully). Perasaan paling benar dan membanggakan diri ini amat tercela, mengingat faktanya manusia adalah makhluk yang lemah, yang berhak sombong hanyalah Allah, nah hamba Allah yang bersifat sombong sudah berarti seolah melakukan persaingan dengan Tuhan dalam sebuah hadits yang sangat populer disebutkan bahwa kesombongan adalah pakaian Tuhan, siapa yang hendaknya merebutnya maka Allah akan memasukkan ke dalam neraka Jahannam.

Keempat, ditempatkan di Neraka, dalam sebuh hadits dinyatakan, bahwa seseorang terhambat masuk neraka bila di dalam hatinya masih ada keimanan, sebaliknya seseorang akan tertahan masuk surga apabila di dalam kesombongan, meskipun kesombongan tersebut sekecil apapun 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّىعم: لا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ ( أخرجه مسلم
Demikianlah empat implikasi sombong, semoga bermanfaat untuk kita semua, sebagai pribadi yang terkadang berbolak baliknya hati, terkadang siang tawadhu' di sore harinya justru sebaliknya. Hindarilah sebisa mungkin sifat sombong dan peliharalah kebersihan ruh ini dengan segala daya dan upaya

Dec 31, 2014

Tugas manusia dan makhluk Allah lainya

Mempertegas kehidupan manusia dalam ceramah singkat kali ini adalah ingin mengajak untuk merenungi firman Allah tentang tugas manusia dan tugas makhluk Allah lainnya selain manusia (bc. alam) , namun sebelumnya tentu tidak hanya sebatas dua ayat dibawah ini, karena ayat tentang tugas makhluk Allah tersebar di dalam al Quran sangat banyak sekali, diantaranya dua ayat yang kami maksud adalah

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Dari kedua ayat tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa manusia diciptakan bukanlah bebas sebebasnya akan tetapi tugas utamanya adalah beribadah kepada Allah, sedangkan bekal untuk aktivita hidupnya telah ditanggung oleh Allah. Tidak dibenarkan manusia berpandangan bahwa kehidupannya diciptakan di alam persada adalah bebas seperti anak kecil yang berbuat semaunya, 

Lebih jauh jika kita perhatikan, semua makhluk Allah dari yang besar hingga yang kecil masing-masing mempunyai kepada Allah, hewan diciptakan ada yang diberi tugas berkembang biak kemudian dagingnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan hajat manusia, atom tunduk mengitari intinya, pepohonan berbuah dan buahnya dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Semua mempunyai tugas sesuai dengan yang di titahkan oleh sang maha pencipta. Mereka memahami sistem kepatuhannya kepada Allah swt. Sebagaimana friman Allah 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. an-Nuur:42)

Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya merupakan petunjuk bagi manusia bahwa semua makhluk ciptaannya mengetahui bagaimana ber-patuh kepada tuhannya, sebagai modal untuk patuh kemudian Allah menanggung jatah keberlangsungan hidupnya. Begitu pula manusia Rizki adalah tanggungan Allah, sedangkan tugas utama manusia adalah ibadah. Dengan kata lain, tugas manusia adalah beribadah, sedangkan tugas Allah adalah memberikan penghidupan (rizki), di sini rizki harus dipahami sekedar yang kita pakai untuk membalut aurat dan makanan sekedar untuk menegakkan tulang iga agar kuat untuk menunaikan perintah beribahdah, itulah yang disebut dengan rizki madhmun (rizki yang ditanggung)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS. Huud:6)

Adapun untuk hal lain, seperti kendaraan, makanan sesuai dengan selera, kebutuhan aksesoris hidup lainnya, tentu Allah akan membedakan antara makhluk yang satu dengan makhluk lainnya, antara manusia yang satu dengan manusia lainnya, rizki yang dibagikan sedemikian rupa sesuai dengan tingkat kesungguhannya disebut dengan rizki maqsuum (rizki yang dibagikan) 

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ.
Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah? (QS. An-Nahl: 71)

Dari penjelasalan ceramah singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa semua makhluk mempunyai tugas masing masing untuk patuh kepada Allah melalui cara mereka masing masing. Segala yang diciptakan oleh Allah baik di langit maupun di bumi, matahari, bintang, gunung, pohon dan termasuk manusia mempunyai tugas untuk patuh terhadap aturan Allah, sebagaimana firman Allah swt. 

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.(QS. Al-Hajj: 19)

Perbedaan yang mencolok antara tugas manusia dan makhluk Allah lainnya selain manusia, jika tugas untuk benda dan hewan adalah tugasnya bersifat pasti (idhthiroriy) sedang tugas manusia bersifat pilihan (ikhtiyariy). Manusia yang diberikan tugas ibadah bisa saja memilih sebagai hamba Allah yang membangkang dan melanggar sesuai dengan dorongan nafsunya.

Nov 26, 2014

Ruh

Ceramah singkat Mendiskusikan ruh sampai saat ini akan menjadi masalah yang terus berkembang dan masih saja misterius, mungkin hal seperti ini akan terjadi selamanya, atau barangkali otak kita tidak dipersiapkan untuk mencapai titik pembahasan detail untuk menjelaskannya dan bisa jadi memang seharusnya misterius kemudian perlu diyakini saja tidak usah dibuktikan secara faktual, cukup hanya dalam alam ide saja bukan dialam nyata, karena memang ruh bukan barang yang nyata. Namun bukan berarti berhenti untuk mengali informasi tentang ruh tersebut.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, fisik atau tubuh manusia itu apakah hanya seonggok daging bongkahan yang disusun sedemikian rupa dan didirikan oleh susunan rangka terbuat dari tulang belulang, didalamnya ada immateri yang menggerakkannya yang disebut dengan ruh? Pertanyaan dasar ini harus dicarikan dalih yang menguatkannya

Dalam diri manusia ada dua dimensi yang tak terpisahkan antara jasad dan ruh, keduanya apabila terpisah maka akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda dalm bentuk maupun fisiknya, kedua dimens tersebut sejalan dengan firman Allah

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. Sajdah: 9)

Dalam ayat diatas seteleh Allah meniupkan ruhnya ke dalam jasad kemudian dilanjutkan dengan penciptaan anggota badan, hal ini tentu menunjuk kepada penggunaan penglihatan, pendengaran yang terjadi setelah ruh itu ditiupkan, begitulah pendapat sebagian mufassir, seolah-olah ayat tersebut memberikan pengertian bahwa sumber penggeraknya adalah ruh, ibarat mobil maka sopir adalah ruhnya sopir yang mengggerakan laju cepat dan tidaknya sebuah mobil, bila ruh tidak ada maka mobilpun tidak bisa bergerak, wallahu a’lam bis shawab

Dalam filsafat Islam, badan berperan sebagai kendaraan ruh, aktifitas yang dilakukan oleh anggota badan hakikatnya bersumber dari ruh seperti melihat, mendengar, mencium dan mencecap rasa sedangkan yang berbentuk fisik berupa mata, telinga, hidung, lidah hanya sekedar alat perantara untuk mengetahui masalah-masalah ini. Oleh karena itu fisik bisa dibantu dan diganti dengan yang lain berbeda dengan hakikat ruh yang bersifat abadi. Seandainya ada seseorang yang pandangannya terganggu karena pergeseran retina maka ia bisa dibantu dengan kacamata untuk merekayasa pergeseran retina tersebut, seseorang yang mengalami masalah pendengaran bisa dibantu dengan alat bantu dengar, hal ini berbeda dengan ruh yang apabila telah hilang berpisah maka tidak ada yang bisa menggantikannya. Itulah gambaran hubungan antara ruh dan jasad

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al Hijr: 29)

Dalam kedua ayat diatas, ada kata “ruh ku”, kata tersebut tentu pemahamannya adalah bukan ruh Allah karena Allah tidak butuh dengan ruh, akan tetapi penyandaran kata ‘ruh’ dan ‘aku’ hanyalah sebuah penyandaran untuk mengagungkan, seperti halnya kita menyebut baitullah (rumah Allah), Syahrullah (bulannya Allah) kesemua ini disebut untuk memulyakan danmembesarkannya agar mendapat perhatian yang lebih dari mustami’ atau orang yang membacanya.
Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا.
dan nafs (jiwa, ruh) dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (QS. As-Syams:7-8)

Dalam ayat di atas ruh memiliki pemahaman sehingga diberikan ilham pemahaman atas kebaikan dan keburukan. Mengingat pada manusia tidak terdapat satupun anggota badan yang bisa memahami sesuatu selain ruh, maka yang layak memiliki pemahaman adalah kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.
-----------------------------------------------
Rekomendasi ceramah singkat kepada anda untuk membaca juga 
  1. di tantang maut
  2. hidup adalah penyesalan

Nov 21, 2014

Sepertiga Kehidupan Manusia

Ceramah Singkat Ada riwayat yang mengatakan bahwa Luqman al-Hakim berwasiat kepada anak-sepertiga kehidupan manusia  didistribusikan ; sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga lagi untuk cacing tanah”. Nasehat di atas kelihatannya sangat simpel tetapi menacakup semua kehidupan dalam istilah manthiqy disebut jami’ mani’ isi kehidupan secara keseluruhan ini tercakup dalam nasehat tersebut, sepertiga untuk Allah adalah ruhnya, sepertiga untuk manusia adalah amalnya. Dan sepertiga untuk cacing tanah adalah jasadnya setelah mati.
anaknya: ”wahai anakku...! sesungguhnya dalam kehidupan ini,

Secara lengkap dan penjabarannya tentang sepertiga kehidupan manusia adalah sebagai berikut:

عن لقمان الحكيم أنه قال لإبنه
: يابني إن الناس ثلاثة أثلاث ثلث لله وثلث لنفسه وثلث للدوده, فأماما هو لله فروحه , وأماماهو لنفسه فعمله , وأماماهوللدود فجسمه

Sepertiga untuk Allah
Dalam pesan tersebut juga mengandung makna, bahwa Allah tidak menghendaki apapun kecuali kembalinya ruh (penghidupan) kepada Allah setelah menjalankan perannya sebagai khalifatullah dengan bersih, kebersihan ruh ini diminta untuk bersih seperti pada saat Allah meniupkannya kedalam diri manusia semenjak di kandungan usia 120 hari, Syukur-syukur jika bisa berpulang ke haribaannya dengan membawa banyak amal perbuatan.

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah: 9)

Allah tidak menuntut apa yang engkau pakai, perhiasan sekelas apapun bagi Allah adalah sama tidak ada bedanya. Allah hanya menuntut kembalinya ruh dalam keadaan bersia seperti sedia kala. Kalau kita renungkan tentu sangat wajar sekali jika Allah hanya menuntut kembalinya kesucian ruh bukan perhiasan atau pakaiannya, karena pada saat lahir Allah tidak menyertakan pakaian dan perhiasan. Walaupun seiring perjalanan hidupnya kemudian Dia-lah Yang Maha Memberi makan, minum dan pakaian, tugas utama manusia adalah menghamba kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Sumber yang mendorong manusia untuk berbuat baik adalah kejernihan hatinya, karena itulah Nabi bersabda, bahwa Allah tidak melihat secara fisik tetapi melihat hati hamba-Nya.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَ رِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdirrahman bin Syahrin radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)

Sepertiga untuk Diri
Isi nasehat yang kedua adalah sepertiga untuk dirimu, yaitu amalmu. Dalam panggung kehidupan ini milik pribadi yang hakiki yang dapat dinikmati dan menemani seorang hamba hingga menghadap kepada Allah adalah amal perbuatannya. Harus diyakini bahwa di alam ‘sana’ tidak kenal rekayasa sedikitpun, semua hamba Allah disetting sedemikian sehingga menjadi pribadi yang sanat jujur tidak mampu berbohong sedikitpun, karena yang berbicara tidak lagi lisan tetapi semua yang ada di sekeliling kita akan menjadi saksi

Alat komunikasi berupa lisan yang dipakai saat ini di akhirat akan dikunci dan anggota tubuh lainnya menjadi saksi, saat itulah amal perbuatan di dunia menjadi bagian dari diri kita, yang membela dan mengantarkan kepada kebahagiaan sejati nan abadi. Amal yang baik akan dibalas dengan kebaikan sebaliknya amal yang buruk akan dibalas dengan siksaan, hal ini bersifat pasti, Allah berfirman

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yaasin: 65)

Sepertiga untuk Cacing Tanah
Adapun sepertiga dari kehidupan ini adalah untuk cacing tanah, yaitu jasad kita, kita bekerja setiap hari untuk merawat fisik agar tetap sehat dengan nutrisi yang seimbang, tetapi pada saatnya nanti setelah pulang keharibaannya dan seonggok badan ditidurkan di dalam tanah untuk selamanya ia akan menjadi santapan cacing tanah.

Harga fisik ketika hidup yang sedemikian mahalnya, seperti jantung, ginjal, usus dan organ fisiologi lainnya, ketika telah berpisah dari ruhnya seketika berubah menjadi murah dan hanya menjadi bahan rebutan bagi cacing tanah, dalam arti tampan dan kemolekan hanya menjadi hiasan duniawi saja, apalah artinya sekeping wajah ia hanya menjadi hiasan yang bersifat sementara dan tidak lama.

Coba lihatlah Bilal bin Rabbah dengan kulitnya yg hitam, lihat pula Amr bi Jamuh dengan kakinya  pincang, Abdullah bin Ummi Maktum dengan kebutaan penglihatan. Mereka mulia di sisi Rabbnya, Rasulullah mengakui keutamaan mereka. Bukan karena tampannya atau cantiknya rupa, bukan pula karena sempurna anggota badannya. Namun semuanya karena kesetiaan pada ikrar syahadat yang diucapkan, kepatuhan pada aturan syariat, melaksanakan kewajiban tanpa keengganan, dan ketaqwaan yang menghunjam sanubari tanpa lekang.

Oleh karena itu tak ada sediktipun yang patut dibanggakan dalam kehidupan ini bila orientasinya kepada fisik, karena hidup yang sesungguhnya adalah non-fisik, hidup yang abadi adalah hidup sesudah kematian dan kehidupan untuk alam sesudahnya, itulah sepertiga kehidupan manusia.
 
Unduh dari newwpthemes | Editor by Pusat Khutbah -